Tanggal 26 Juli 2009 kami berangkat dari kota Padang menuju desa Gudam yang berada di kecamatan Tanjung Emas kabupaten Tanahdatar provinsi Sumatera Barat. Kunjungan ini merupakan sebuah misi etnografi sehubungan dengan penelusuran keberlanjutan tradisi megalitikum di Ranah Minang. Penelusuran ini diawali dengan ditemukannya menhir dan benda-benda megalit lainnya di daerah kabupaten Limapuluh Kota dan kabupaten Tanahdatar.
Kunjungan kali ini difokuskan pada Ustano Rajo yang terdapat di Jorong (desa) Gudam, kami mendapat informasi bahwa juru kunci situs ustano Rajo adalah Bapak Malin malelo. Namun ketika kami sampai di lokasi situs, ternyata bapak Malin sedang tidak berada di tempat. Akhirnya kami diantarkan oleh salah seorang penduduk desa Gudam ke rumah orang tua Pak malin yaitu Bapak Mansyur. Sesampai di rumah Pak Mansyur kami disuguhi minum, dan selanjutnya kami mulai mengadakan pembicaraan kecil sehubungan dengan penelusurn kami tentang Ustano Rajo yang terdapat di situs jorong Gudam.
Dari uraian singkat yang disampaikan oleh Pak Mansyur kami mengetahui bahwa Pak Malin Malelo adalah pewaris langsung dari Ustano Rajo Alam, oleh karena itu Pak Malin Malelo juga merupakan orang yang bertanggung jawab atas pemeliharaan Ustano sehingga keberadaan Ustano dapat terjaga dengan baik. Menurut Pak Mansyur, Ustano Rajo Malin mulai dipugar pemerintah melalui dinas Suaka Alam sejak tahun 1975, tahun 1989 melalui SK Dinas Suaka Alam pengelolaan Ustano diserahkan kepada pemerintah Jorong Gudam, pada tahun 1991 pengelolaan Ustano dikembalikan kepada pewaris langsung yaitu kepada Keluarga Malin Malelo, sedangkan malin malelo yang sekarang
Selanjutnya kami menanyakan tentang kata Ustano yang menjadi nama dari situs tersebut, kenapa situs itu disebut sebagai Ustano, sementara yang ada di situs tersebut hanyalah hamparan kuburan. Mendengar pertanyaan yang kami ajukan tersebut Pak Mansyurn langsung tersenyum, beberapa saat kemudian Pak Mansyur menjawab bahwa ada kata Istana dan ada kata Ustano, keduanya memeiliki kesamaan dan perbedaan. Kemudian pak Mansur menjelaskan bahwa Istana adalah tempat tinggal atau rumah Raja dan keluarganya, Istana merupakan tempat tinggal sementara. Sedangkan Ustano adalah rumah atau tempat tinggal abadi bagi raja dan keluarganya. Berdasarkan uraian pak Mansyur akhirnya kami mengetahui bahwa yang dimaksud dengan Ustano adalah komplek pemakaman Raja dan keluarga Raja.
Lebih jauh ketika kami menanyakan siapa raja yang dimakamkan di komplek Ustano tersebut, maka pak Mansyur menjelaskan bahwa Raja yang berkubur di komplek Ustano jorong Gudam tersebut adalah Rajo Alam.
Rajo Pertama di Minangkabau
Menurut Pak Mansyur, Rajo Alam adalah raja pertama yang ada di Minangkabau, sang raja bernama Dang Tuanku, beliau diberi gelar raja alam karena beliau merupakan raja yang menguasai alam. Karena menurut Pak Mansyur masih ada dua orang raja lagi didaerah tersebut yaitu Raja Ibadat yaitu raja yang menguasai persoalan Ibadat atau agama, dan Raja Adat adalah raja yang menguasai bidang Adat.
Ketika pembicaraan ini sudah mulai menarik, kami kemudian mengajak Pak Mansyur mengunjungi situs yang berjarak kira-kira 100 meter rumah kediamannya. Pembicaraan kami lanjutkan di dalam komplek situs kami duduk diantara makam yang terdapat di dalam situs tersebut. Sambil melihat ke sekitar komplek pak Mansur berkata bahwa inilah makam Raja Alam dan segenap keluarga raja. Namun demikian kata Pak Mansyur, ada dua makam yang bukan merupakan makam keluarga raja alam, Pak Mansyur berdiri dan berjalan menuju ke makam yang dimaksud. Pak mansyur menunjuk ke sebuah batu nisan makam tersebut, dan mengatakan bahwa makam tersebut adalam makam seorang perempuan bernama Noni, ia adalah anak seorang pejabat Belanda yang meninggal saat Belanda berkuasa di tanahdatar. Pada batu nisan tersebut kami melihat tulisan yang menyatakan tahun kematian sang Noni yaitu tahun 1905. Ketika kami sedang bercengkerama seperti itu tiba-tiba datang seseorang menghampiri kami, melihat orang dating tersebut kemudian Pak mansyur langsung memperkenalkan orang tersebut kepada kami, ternyata orang tersebut adalah Pak Malin Malelo, orang yang pada awalnya merupakan target wawancara kami. Setelah berbasa basi sejenak pembicaraan kami lanjutkan, pak mansyur mengatakan bahwa kami dapat langsung melanjutkan pembicaraan dengan Pak malin Malelo.
Selanjutnya secara otomatis Pak Malin melanjutkan apa yang telah diuraikan oleh Pak Mansyur, dia mengatakan sambil menunjuk salah satu makam yang terdapat di sudut sebelah barat kompleks makam, disana terdapat sebuah makam dengan batu nisan bewarna merah. Menurut Pak malin, makam itu baru dibuat, dan dibangun oleh seorang warga Malaysia. Ketika kami menanyakan keberadaan makam tersebut apakah dulu memang ada makam orang Malaysia di dalam kompleks tersebut yang kemudian rusak atau tertimbun dan sebagainya, maka kemudian dibangun kembali oleh keluarganya atau apa yang sesungguhnya terjadi terhadap makam tersebut. Maka secara langsung Pak Malin menjawab, bahwa ia telah tinggal di jorong Gudam ini selama hidupnya sampai sekarang dan menjadi pewaris sah dari Ustano Rajo Alam jorong Gudam, namun Pak Malin tidak mengetahui dan membantah keberadaan makam orang Malaysia tersebut.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
pa...lah caliak blog bang...
BalasHapus